Berita,  Sosial

Masyarakat Desa Gomo Nias Keturunan Dewa, Mitos atau Fakta?

Pulau Nias selain terkenal dengan eksotisme pantainya yang sudah mendunia. Pulau ini juga terkenal dengan kekayaan budaya, adat istiadat dan tidak ketinggalan.

Menurut mitos dalam sastra lisan Nias kuno yang berkembang di Pulau Nias, alam semesta beserta seluruh isinya merupakan ciptaan Lowalangi. Di sana diceritakan Lowalangi menciptakan langit dengan cara mengaduk-aduk angin yang beraneka warna menggunakan tongkat gaib yang disebut sihai.

Proses pengadukan itu berlangsung selama beberapa hari hingga terciptalah langit yang memiliki beberapa lapisan. Masih menurut sastra tersebut, masing-masing lapisan langit dihubungkan dengan sebuah tangga.

Lapisan terakhir ke-9 adalah tempat tinggal manusia dan makhluk hidup lain yang disebut Teteholi Ana’a, yang letaknya sangat jauh dari Pulau Nias.

Mitos di Desa Gomo: Kutukan Fondrako

Berbagai mitos tentang Desa Gomo berupa sebuah kutukan.

Seperti daerah lainnya di Nusantara, Nias juga memiliki suku dan hukum adat yang telah dibuat oleh para Raja dan Tetua Adat di zaman dahulu.

Hukum Adat Nias ini terkenal dengan sebutan Fondrako.

Fondrako ditetapkan untuk mengatur tata kehidupan masyarakat Nias dengan sanksi berupa kutuk bagi siapa saja yang melanggarnya.

Istilah Fondrako berasal dari kata rako yang artinya: “tetapkan dengan sumpah dan sanksi kutuk”. Tata pelaksanaan Fondrako biasanya diawali dengan forum musyawarah, penetapan, dan pengesahan adat dan hukum.

Masyarakat Desa Gomo percaya, bahwa barang siapa yang mematuhi Fondrako maka akan mendapat berkat. Begitu pula bagi yang melanggar akan mendapat kutukan dan sanksi.

Seperti halnya mitos tentang asal-usul orang Nias yang konon diturunkan Lowalangi dari langit, maka Fondrako ini juga diturunkan bersama dengan Hia Walangi Sinada (manusia pertama di Nias) di daerah Gomo (Bagian Selatan Nias).

Proses pengesahan Fondrako ini sangat kental dengan aura mistis dan mengerikan.

Fondrako ini biasanya diselenggarakan di Aro Gosali (Rumah musyawarah) yang dihadiri oleh raja dan para tetua adat.

Pemimpin ritual ini menetapkan Fondrako dengan menggunakan ayam, lidi, dan timah panas.

Tetua Adat mematah-matahkan lidi atau kaki dan sayap ayam serta menuangkan timah panas ke dalam mulut ayam tersebut. Saat melakukan ritual tersebut, Tetua Adat akan mengucapkan kutuk.

Kutukannya berbunyi: “Barang siapa yang melanggar segala sesuatu yang telah ditetapkan dalam Fondrako ini, maka dia akan segera mati (bernasib sama seperti lidi atau ayam tersebut)”.

Sebelum masuknya ajaran Kristen ke Pulau Nias, Fondrako ini sangat dipercaya memiliki kekuatan.

Apalagi dengan banyaknya orang yang mengalami kutuk seperti yang telah ditetapkan para tetua tersebut.

Selain Fondrako, ada juga hukuman lainnya bagi individu bagi pelanggar aturan.

Hukuman tersebut antara lain: denda emas, denda babi, hingga hukuman pancung. Proses eksekusi pancung biasanya dilakukan secara terbuka di atas batang pisang.

Namun seiring dengan perkembangan zaman dan pengenalan masyarakat akan agama maka kepercayaan akan kutukan dan hukum pancung tersebut sudah mulai berkurang.

Meski begitu sampai saat ini masih ada masyarakat yang memegang teguh Fondrako, terutama para tetua-tetua adat di Pulau Nias.

Seiring dengan perkembangan zaman, kini para raja dan tetua adat bermufakat untuk membaharui peraturan. Aturan yang mereka buat telah disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing rakyatnya.

sumber : pesona.travel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *